Biografi ulama ahli hadits dibeberapa tempat : Madinah, Kufah dan Bashra.
Ulama Ahli Hadits di Madinah :
Sa’idbin al-Musayyab
Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Haznal-Quraisy al-Makhzumi, ayahnya dan kakeknya adalah sahabat Nabi Shallallahualaihi wassalam, ia dilahirkan sebelum Umar menjadi khalifah, pendapat lain mengatakan ia dilahirkan dua tahun sesudah kekhalifaan Umar ra. Ia luas ilmunya, sempurna kehormatannya, kuat agamanya, mengatakan kebenaran dan mendalam jiwanya, sejak muda telah melakukan perjalanan siang dan malam untuk mendapatkan hadist Nabi.
Mengenai dia sebagaimana dituturkan oleh
1. Ahmad bin Hambal adalah:” Ia tabi’in paling utama”.
2. Makhul berkata:” Aku telah menjelajahi bumi untuk menuntut ilmu, teryata aku tidak bertemu seorangpun yang lebih pandai dari pada Sa’id bin al-Musayyab”.
3. Ali bin al-Madini menyatakan :” Aku tidak tahu di kalangan tabi’in ada orang yang luas ilmunya daripada Sa’id, dia ditempatku pada masa tabi’in terbesar, ia tidak mau menerima hadiyah raja-raja”.
Para ulama meriwayatkan bahwa ia mengawinkan putrinya kepada Kutsayyir bin Abi Wada’ah hanya dengan mas kawin dua dirham.
Padahal sebelumnya ia menolak lamaran Abdul Malik yang ingin menjodohkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik. Dan ketika Abdul Malik hendak melaksanakan bai’at bagi putranya al-Walid, Hisyam bin Ismail selaku pengganti Abdul Malik di Medinah memukul Sa’id bi al-Musayyab dan menghadapnya dengan pedang, untuk memaksanya melakukan bai’at namun Sa’id tetap tidak mau.
Ibnu Musayyab meriwayatkan hadist dari Abu Bakar secara Mursal, dan ia mendengar dari sahabat besar: Umar, Utsman, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah dan beberapa yang lainnya. Yang meriwayatkan dari dia antara lain Salim bin Abdullah, Az-Zuhri, Qatadah, Syuraik, Abuaz-Zanad. Sebagian besar riwayatnya adalah Al-musnad dari Abu Hurairah. Hasan Basri apabila mengalami kesulitan maka ia menulis kepada Sa’id bin Musayyab untuk menanyakannya. Menurut salah satu pendapat, Ia wafat pada tahun 94 H.
Nafi Maula Abdullah bin Umar
Nafi Maulana Abdullah bin Umar adalah salah seorang ahli hadits yang berada di Madinah, Ia meriwayatkan dari sahabat-sahabat awal ; Aisyah, Abu Hurairah, dan sahabat yang lain, pada masanya pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis, ia pernah diutus ke Mesir untuk mengajarkan As-Sunnah kepada penduduknya. Semasa hidupnya ia tidak pernah memberikan fatwa. Ia melayani Abdullah bin Umar 30 tahun, ia berasal dari Dailami dan suatu pendapat mengatakan beliau wafat pada tahun 117 H
Ahli Hadits dari Kufah :
Alqamah bin Qaish an-Nakha’i
Alqamah bin Qaishan-Nakha’i, seorang ahli fiqih Irak. Ia dilahirkan pada masa hidup Rasulullahsaw dan mendengar hadits dari Sahabat Umar, Utsman, Ibnu Mas’ud dan Ali Rahimahumullah. Ia menjadi ahli fiqih pada Ibnu Mas’ud dan dialah sebaik-baik temannya. Diriwayatkan dari Ibnu mas’ud bahwasannya ia berkata: “ Saya tidak membaca atau mengatahui sesuatu kecuali Al-Qamah membacakan atau mengerjakannya.” Qabus bin Zhi-Byan berkata kepada ayahku: “ karena apakah engkau tinggalkan sahabat dan datang kepada Al-Qamah?” Ia menjawab: saya jumpai orang-orang dari sahabat-sahabat rasulullah saw bertanya dan meminta fatwa kepadanya. Adzzahabi berkata: “ dia adalah seorang faqih, imam yang sangat mahir, suaranya merdu dengan Al-Qur’an, teguh dalam apa yang dinukilkannya, seorang yang banyak berbuat baik dan wara’. Ia serupa dengan Ibnu Mas’ud dalam memberikan tuntunan, petunjuk, sifat dan keutamaannya. menurut suatu pendapat Ia
meninggal tahun 61 H, pendapat lain mengatakan 62 H.
Ibrahim an-Nakha’i
Ibrahim an-Nakha’i, nama aslinya adalah Ibrahim binYazid an-Nakha’i seorang ahli fiqih Iraq. Ia meriwayatkan hadits dari Al-Qama, Masruq, Aswad dan lain-lain. Dia adalah Guru hammad bin Abu Salamah seorang ahli fiqih dan termasuk ulama yang ikhlas. Ia takut akan ketenaran. Abdul Malikbin Abu Sulaiman berkata, saya mendengar Said bin Zhubair berkata: “ kamu minta fatwa kepadaku, sedangakan padamu ada Ibrahim an-Nakha’i?” dan ia hanya bicara bila ditanya. menurut suatu pendapat Ia meninggal 95 H, pendapat lain mengatakan ia meninggal 96 H dan umurnya sekitar 49 tahun.
AhliHadits dari Bashra :
Al-Hasan Al-Bashra
Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula”(pembantu wanita)-nya telah melahirkan seorang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.
Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh suka cita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau berinama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khairoh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pemberiannama.
Al-Hasanbin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam –sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu AlaihiWassalam.
Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubungan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada keluarga Rasulullah ShallallahuAlaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada dimasjid Nabawiy.
Ditimpa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadistdari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah binUmar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat Rasulullahlainnya. Al-Bukhari mentakhrijkan 80 hadits, Muslim mentakhrijkan 70 haditsdari Anas, dan keduanya mentakhrij bersama-sama sebanyak 128 hadits. Al-Hasansangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi,kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.
Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabatdan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini. Di Basrah, Hasan Al-Basrilebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau,Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmufiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain.Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.
Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pulake telinga penguasa.
Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritikatasnya atau menentangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depanAl-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah mengutarakan kritiknya yang amat pedas.
Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itudibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadapAl-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …” Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalahkalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seorangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .
Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati bergetar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenangan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.
Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semuamata memandang dengan kagum.
Mulailah Al-Hajaj menanyakan berbagai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab olehHasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaannya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejukdan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”
Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”
Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memeliharamu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat HasanAl-Basri yang sangat dalam itu.
Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110 H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong takber penghuni.
Semoga dapat menambah wawasan kita..
AAMIIN...