Kamis, 11 Juni 2015

BIOGRAFI SAYYID QUṬB


Sayyid Quṭb dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1906 di Musha, Asyut, Mesir atas (325 kilometer dari Kairo) dari keluarga yang memiliki tanah yang luas, meskipun tidak kaya. Ayahnya pemuka desa dan menikah dua kali. Dia memiliki satu saudara laki-laki yang lebih tua yaitu Muhammad dan dua orang adik perempuan bernama Hamidah dan Aminah. Ayahnya tuan rumah yang dermawan sehingga memaksakan dirinya menggadaikan tanahnya, dan terkadang terpaksa melepaskan tanahnya kepada para pemberi kredit.[1]
Sayyid Quṭb mendapat pendidikan pertama kali di rumahnya dari orangtua yang kuat beragama. Pada usia enam tahun, Sayyid Quṭb diantar ke sekolah rendah di kampungnya, Asyut. Pada usia tujuh tahun, dia telah mulai menghafalan al-Qur’an sehingga ketika berumur sepuluh tahun dia telah menghafal seluruh isi al-Qur’an.[2]
Sayyid Quṭb adalah salah seorang tokoh Islam yang berjuang secara totalitas untuk agama Islam. Dia merelakan masa hidupnya untuk Allah s.w.t dan mempersembahkan nyawanya demi keyakinan dan aqidahnya kepada Allah s.w.t. dengan menuangkan jiwa dan pikirannya yang luar biasa dalam lembar-lembar tulisan tangannya dengan untaian kata yang penuh makna dan bernilai sastra. Hampir semua orang yang membaca tulisan-tulisannya dapat merasakan getar ruhani dan pikirannya yang sangat mengguncang.[3]
Sayyid Quṭb juga seorang ulama yang penuh keseriusan dalam usahanya mewujudkan semangat Islam dalam kehidupan manusia seluruhnya sebagaimana dimaksud dan diterangkan oleh Rasulullah s..a.w. Dia adalah seorang mujahid yang penuh militansi dan keberanian serta terayom oleh dekapan-dekapan iman dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai landasan dan pandangan hidup di bumi Allah, karenanya ia tidak merasa sedikit pun kecut mendekam di balik jeruji-jeruji besi, dan pada akhirnya pasrah menyerahkan akhir hayatnya di tiang gantungan orang-orang Tiran, dengan jiwa yang tenang dan diliputi kerinduan bertemu Allah.[4]
Selama hidupnya, Sayyid Quṭb telah banyak berbuat untuk Islam dan umatnya. Dijalani hidupnya tanpa sia-sia, dengan mengungkapkan pemikiran-pemikiran baiknya dan meninggalkan jejak-jejak segarnya yang tertuang dan terukir dalam berbagai karya bukunya.[5]
Pesan utama yang ditekankan Sayyid Quṭb di dalam tulisan-tulisannya adalah konsep tauhid dari sudut Al-Uluhiyah. Menurutnya, inti dari tauhid tersebut adalah hak Allah sebagai Zat pembuat peraturan. Oleh karena itu, menurutnya, “la ilaaha illallah” adalah pernyataan revolusi[6] terhadap seluruh kedaulatan yang berkuasa di atas muka bumi. Seluruh kedaulatan tersebut harus dikembalikan kepada hak-Nya.[7]
Pada 1948-1950, Sayyid Quṭb berkunjung ke Amerika Serikat untuk belajar tentang metode pendidikan barat (Western Methods of Education). Ia belajar di Wilson’s Teachers’ College (saat ini bernama The university of the District of Columbia) pada the University of Northern Colorado’s Teachers’ College. Ia meraih gelar MA di universitas itu dan juga di Stanford University. Setelah tamat kuliah, Sayyid Quṭb juga pernah berkunjung ke Inggris, Swis, dan Italia.[8]
Pengalaman hidupnya lebih dari dua tahun di Amerika itu, tampaknya menjadi ‘titik balik’ yang penting dalam hidupnya. Ia bukan menjadi pengagum Amerika, malah justru menjadi pengkritik Amerika (Barat) yang tajam dan segera setelah ia kembali ke Mesir pada 1952, ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.[9]
Sayyid Quṭb kemudian bergabung dengan gerakan Islam Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah satu seorang tokohnya yang berpengaruh, di samping Hasan al-Hudaibi dan Abdul Qadir Audah. Sewaktu larangan terhadap Ikhwanul Muslimin dicabut pada tahun 1951, ia terpilih menjadi seorang anggota pelaksana dan memimpin bagian bidang dakwah. Selama tahun 1953, ia sering menghadiri konferensi di Suriah dan Yordania, dan sering memberikan ceramah tentang pentingnya akhlak sebagai prasyarat kebangkitan umat.[10]
Pada tahun 1954, sekitar bulan Juli, ia menjadi pimpinan redaksi harian Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi baru dua bulan usianya, harian itu ditutup atas permintaan Presiden Mesir Kolonel Gamal Abdul Nasser karena mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7 Juli 1954.[11]
Pada tahun 1955, sekitar bulan Mei, Sayyid Quṭb termasuk salah seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin yang ditahan setelah organisasi itu dilarang oleh Presiden Nasser dengan tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah. Pada Juli 1955, pengadilan rakyat menjatuhkan hukuman lima belas tahun kerja berat. Ia ditahan di beberapa penjara di Mesir hingga perrtengahan tahun 1964.[12] 
Pada tahun 1964, ia dibebaskan atas permintaan Abdul Salam Arif, presiden Irak yang mengadakan kunjungan ke Mesir. Setahun kemudian ia ditangkap lagi bersama saudara-saudaranya dan 20 ribu orang, termasuk diantaranya 700 wanita. Tanggal 12 April 1966, Qutb diadili oleh pengadilan Militer dengan tuduhan berupaya menumbangkan pemerintahan Mesir dengan kekerasan lewat karya Ma’alim fi aththariq-nya. Pada 21 Agustus 1966, Ia bersama Abdul Fatah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwasy dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Kemudian ia bersama dua orang temannya dihukum gantung pada tanggal 29 Agustus 1966.[13]



[1]David Sagiv, Islam Otentitas Liberalisme, alih bahasa: Yudian W. Asmin, (Yogyakarta: LKiS, 1997), hlm. 39.
[2]  Imam Fauzan, 100 Tokoh Islam Terkenal di Dunia, (Tangerang Selatan: Mediatama Publishing, 2012), hlm. 202.
[3] Ibid., hlm. 201.
[4] Anwar Wahdi Hasi, “Pengantar Penerjemah”, dalam Sayyid Quṭb, inilah islam, terj. Anwar wahdi Hasi, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1986), ix.
[5] Ibid..
[6] Revolusi adalah 1. Perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan persenjataan). 2. Perubahan yang cukup mendasar di suatu bidang: Dialah pelopor dalam bidang arsitektur bangunan bertingkat. 3. Peredaran bumi dan pelanet-pelanet lain dalam mengelilingi matahari. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline. 
[7] Imam Fauzan, 100 Tokoh..., hlm. 202. 
[8] Nuim Hidayat, Sayyid Quṭb: Biografi dan kejernihan pemikirannya, (Jakarta: Perspektif, 2005), hlm. 41.
[9] Ibid..
[10] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil-Qur’an, Cet. I, Jilid. 1, (Beirut: Darusy-Syuruq, 1412 H/1992 M), hlm. 406.
[11] Ibid..
[12] Ibid..
[13] David Sagiv, Islam,  hlm. 38-40.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar