Sayyid
Quṭb dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1906 di Musha, Asyut, Mesir atas (325
kilometer dari Kairo) dari keluarga yang memiliki tanah yang luas, meskipun
tidak kaya. Ayahnya pemuka desa dan menikah dua kali. Dia memiliki satu saudara
laki-laki yang lebih tua yaitu Muhammad dan dua orang adik perempuan bernama
Hamidah dan Aminah. Ayahnya tuan rumah yang dermawan sehingga memaksakan
dirinya menggadaikan tanahnya, dan terkadang terpaksa melepaskan tanahnya
kepada para pemberi kredit.[1]
Sayyid Quṭb mendapat
pendidikan pertama kali di rumahnya dari orangtua yang kuat beragama. Pada usia
enam tahun, Sayyid Quṭb
diantar ke sekolah rendah di kampungnya, Asyut. Pada usia tujuh tahun, dia
telah mulai menghafalan al-Qur’an sehingga ketika berumur sepuluh tahun dia
telah menghafal seluruh isi al-Qur’an.[2]
Sayyid Quṭb adalah
salah seorang tokoh Islam yang berjuang secara totalitas untuk agama Islam. Dia
merelakan masa hidupnya untuk Allah s.w.t dan mempersembahkan nyawanya demi
keyakinan dan aqidahnya kepada Allah s.w.t. dengan menuangkan jiwa dan
pikirannya yang luar biasa dalam lembar-lembar tulisan tangannya dengan untaian
kata yang penuh makna dan bernilai sastra. Hampir semua orang yang membaca
tulisan-tulisannya dapat merasakan getar ruhani dan pikirannya yang sangat
mengguncang.[3]
Sayyid Quṭb juga seorang
ulama yang penuh keseriusan dalam usahanya mewujudkan semangat Islam dalam
kehidupan manusia seluruhnya sebagaimana dimaksud dan diterangkan oleh
Rasulullah s..a.w. Dia adalah seorang mujahid yang penuh militansi dan
keberanian serta terayom oleh dekapan-dekapan iman dalam memperjuangkan
nilai-nilai Islam sebagai landasan dan pandangan hidup di bumi Allah, karenanya
ia tidak merasa sedikit pun kecut mendekam di balik jeruji-jeruji besi, dan
pada akhirnya pasrah menyerahkan akhir hayatnya di tiang gantungan orang-orang Tiran,
dengan jiwa yang tenang dan diliputi kerinduan bertemu Allah.[4]
Selama hidupnya, Sayyid Quṭb telah banyak berbuat untuk Islam dan
umatnya. Dijalani hidupnya tanpa sia-sia, dengan mengungkapkan
pemikiran-pemikiran baiknya dan meninggalkan jejak-jejak segarnya yang tertuang
dan terukir dalam berbagai karya bukunya.[5]
Pesan
utama yang ditekankan Sayyid Quṭb di dalam tulisan-tulisannya adalah konsep tauhid dari sudut
Al-Uluhiyah. Menurutnya, inti dari tauhid tersebut adalah hak Allah sebagai Zat
pembuat peraturan. Oleh karena itu, menurutnya, “la ilaaha illallah” adalah
pernyataan revolusi[6] terhadap
seluruh kedaulatan yang berkuasa di atas muka bumi. Seluruh kedaulatan tersebut
harus dikembalikan kepada hak-Nya.[7]
Pada
1948-1950, Sayyid Quṭb
berkunjung ke Amerika Serikat untuk belajar tentang metode pendidikan barat (Western
Methods of Education). Ia belajar di Wilson’s Teachers’ College (saat ini
bernama The university of the District of Columbia) pada the University of
Northern Colorado’s Teachers’ College. Ia meraih gelar MA di universitas itu
dan juga di Stanford University. Setelah tamat kuliah, Sayyid Quṭb juga
pernah berkunjung ke Inggris, Swis, dan Italia.[8]
Pengalaman
hidupnya lebih dari dua tahun di Amerika itu, tampaknya menjadi ‘titik balik’
yang penting dalam hidupnya. Ia bukan menjadi pengagum Amerika, malah justru
menjadi pengkritik Amerika (Barat) yang tajam dan segera setelah ia kembali ke
Mesir pada 1952, ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.[9]
Sayyid Quṭb kemudian bergabung dengan gerakan Islam
Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah satu seorang tokohnya yang berpengaruh, di
samping Hasan al-Hudaibi dan Abdul Qadir Audah. Sewaktu larangan terhadap
Ikhwanul Muslimin dicabut pada tahun 1951, ia terpilih menjadi seorang anggota
pelaksana dan memimpin bagian bidang dakwah. Selama tahun 1953, ia sering
menghadiri konferensi di Suriah dan Yordania, dan sering memberikan ceramah
tentang pentingnya akhlak sebagai prasyarat kebangkitan umat.[10]
Pada tahun 1954, sekitar bulan Juli, ia menjadi pimpinan redaksi harian Ikhwanul Muslimin. Akan
tetapi baru dua bulan usianya, harian itu ditutup atas permintaan Presiden
Mesir Kolonel Gamal Abdul Nasser karena mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7
Juli 1954.[11]
Pada tahun 1955, sekitar bulan Mei, Sayyid Quṭb termasuk salah seorang pemimpin Ikhwanul
Muslimin yang ditahan setelah organisasi itu dilarang oleh Presiden Nasser
dengan tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah. Pada Juli 1955,
pengadilan rakyat menjatuhkan hukuman lima belas tahun kerja berat. Ia ditahan
di beberapa penjara di Mesir hingga perrtengahan tahun 1964.[12]
Pada tahun 1964, ia dibebaskan atas permintaan Abdul Salam Arif, presiden Irak yang
mengadakan kunjungan ke Mesir. Setahun kemudian ia ditangkap lagi bersama
saudara-saudaranya dan 20 ribu orang, termasuk diantaranya 700 wanita. Tanggal
12 April 1966, Qutb diadili oleh pengadilan Militer dengan tuduhan berupaya
menumbangkan pemerintahan Mesir dengan kekerasan lewat karya Ma’alim fi
aththariq-nya. Pada 21 Agustus 1966, Ia bersama Abdul Fatah Ismail dan
Muhammad Yusuf Hawwasy dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Kemudian ia
bersama dua orang temannya dihukum gantung pada tanggal 29 Agustus 1966.[13]
[1]David Sagiv, Islam
Otentitas Liberalisme, alih bahasa: Yudian W. Asmin, (Yogyakarta: LKiS,
1997), hlm. 39.
[2] Imam Fauzan, 100 Tokoh Islam Terkenal di
Dunia, (Tangerang Selatan: Mediatama Publishing, 2012), hlm. 202.
[3] Ibid.,
hlm. 201.
[4] Anwar Wahdi Hasi, “Pengantar Penerjemah”, dalam Sayyid Quṭb, inilah islam, terj. Anwar wahdi Hasi,
(Surabaya: PT Bina Ilmu, 1986), ix.
[6] Revolusi
adalah 1. Perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang
dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan persenjataan). 2.
Perubahan yang cukup mendasar di suatu bidang: Dialah pelopor dalam bidang
arsitektur bangunan bertingkat. 3. Peredaran bumi dan pelanet-pelanet lain
dalam mengelilingi matahari. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline.
[7] Imam Fauzan, 100
Tokoh..., hlm. 202.
[8] Nuim Hidayat, Sayyid
Quṭb: Biografi dan kejernihan pemikirannya, (Jakarta: Perspektif, 2005),
hlm. 41.
[9] Ibid..
[10] Sayyid Quthb, Fi
Zhilalil-Qur’an, Cet. I, Jilid. 1, (Beirut: Darusy-Syuruq, 1412 H/1992 M), hlm. 406.
[11] Ibid..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar