Kamis, 11 Juni 2015

SABAR


Ketahuilah, semua yang terjadi di alam ini telah ada ketetapannya. Tidak ada satu perkara pun yang bergeser dan menyimpang dari apa yang telah ditetapkan Alloh SWT. Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk, semenjak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah SAW. bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Artinya: “Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”.[[1]]

Dalam kaitan ini, maka wajib bagi seluruh manusia untuk beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk. Allahlah yang telah membagi rezeki, menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hamba-Nya, menentukan apakah seorang hamba tersebut termasuk yang bahagia atau sengsara ketika di dunia. Allah juga telah menetapkan ajal seseorang, dan memastikan pula tempat tinggalnya di akhirat kelak, surga ataukah neraka. Semua yang terjadi adalah berdasarkan iradah-Nya, kehendak Allah.
Kemudian, sebagaimana yang kita rasakan, manusia hidup di dunia ini, tak pernah lepas dari kesusahan, kesengsaraan dan kesedihan. Ini semua merupakan ujian yang selalu datang silih berganti[[2]]. Timbullah satu pertanyaan dalam diri kita, bagaimana menyikapi/menghadapi cobaan/ujian dari Allah SWT???


Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu”.[[3]]

Ayat tersebut adalah salah satu jawaban terhadap pertanyaan yg timbul tadi, dalam hal ini Allah SWT. memerintahkan kepada kita agar senantiasa bersabar dalam menjanali kehidupan di dunia ini.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Artinya: "Tidak ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang mukmin walaupun berupa duri, melainkan dengannya Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan atau menghapus satu kesalahannya."[[4]]

Dari hadits di atas kita ketahui bahwa, seseorang yang disebut mukmin pasti akan diuji/dicoba oleh Allah dalam kehidupannya, dan tidak ada yang dapat menghadapi cobaan tersebut kecuali orang yang sabar. Bersabar bukan berarti menerima dan pasrah saja terhadap ujian/cobaan yang menimpa kita, akan tetapi yang dimaksud bersabar adalah bertindak sesuai situasi dan kondisinya secara proporsional. Jadi, apabila kita ditimpa ujian/cobaan kita tidak hanya menerimanya saja melainkan kita harus berusaha untuk menyelesaikannya. Inilah yang dinamakan SABAR!!! 
Sabar adalah solusi terbaik untuk mengatasi ujian/cobaan yang menimpa kita, karena sabar merupakan suatu perbuatan/sikap yang mulia yang telah Allah SWT jelaskan dalam Firman-Nya.


Allah SWT berfirman:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

  Artinya: “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (Mulia)[[5]]

Dari penjelasan di atas maka, kita dapat mengambil satu kesimpulan bahwa, tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa dihadapkan pada ujian dan cobaan yang silih berganti, dan tidak ada yang dapat mengahadapi semua cobaan dan ujian kecuali orang-orang yang sabar. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang sabar. Aamiin!!!

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

Artinya: “Ya Allah ampunilah orang-orang muslim dan muslimah, dan orang-orang mu’min dan mu’minah yang masih hidup dan yang telah tiada, sesungguhnya engkau maha mendengar, mengawasi lagi maha pengabul do’a.”

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

Artinya:“Ya tuhan kamia, janganlah ngkau hukum kami jika kami lupa atau kamu salah. Yatuhan kami, janganlah ngkau bebankan kepada kami beban yang beratsebagaimana ngkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya tuhan kami, janganlah ngkau pikulkan kepada kamiapa yang tak sanggunp kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami,. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kamim terhadap kaum yang kafir.”

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

            Artinya: “Ya tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari kami dari siksa neraka.”



[1] HR Muslim no. 4797 Perawinya Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdullah bin ‘Amru As Sarh, beliau seorang Tabi’ut Atba’ kalangan tua, kuniah beliau Abu Ath Thahir, beliau hidup di Maru dan wafat pada tahun 250 H. Abu hatim berkomentar terhadap hadit ini “La ba’sa bih”, sedangkan An Nasa’I dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani berkomentar”Tsiqah”.
[2] Abu Ziyad Agus Santoso As-Sunnah, Edisi 03/Tahun XI/1428/2007M
[3] QS Muhammad (47):31
[4] HR Muslim no. 4669 perawinya Harmalah bin Yahya bin ‘Abdullah bin Harmalah, beliau seorang Tabi’ul Athba’ kalangan pertengahan, kuniah beliau Abu Hafsh, beliau hidup di Maru dan wafat pada 244 H. Ibnu Hibban berkomentar terhadap hadits ini “Disebutkan dalam ‘Ats Tsiqaat”, Ibnu Hajar al ‘Asqalani berkomentar “Shaduuq” dan Abu hatim berkomentar “Laa Yuhtaj”.
[5] QS Ash Shura (42):43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar