BERANI DAN PERCAYA
DIRI
Iman yang benar dalam dada
seorang muslim akan menghasilkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa. Sebab, seorang muslim, setelah mengetahui dan
memahami firman Allah SWT :
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ
اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang
telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah
kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(QS. At Taubah
51).
Dia akan beriman bahwa apa yang ditetapkan oleh
Allah SWT niscaya akan menimpanya, yang baik maupun yang buruk. Sehingga dia akan menceburkan diri dalam
medan kehidupan bahkan medan perang sekalipun dengan penuh keberanian. Dia tidak gentar pada apapun dan siapapun,
selain kepada Allah SWT. Terlebih lagi
jika seorang muslim mengerti dan memahami sabda Rasulullah saw:
(( لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ
أَجَلَهَا وَرِزْقَهَا وَمَا قُدِرَ لَهَا ))
“Tidaklah mati seseorang sampai
dipenuhi ajalnya, rizki, dan apa yang ditakdirkan baginya”.
Imam Al Qurthubi menjelaskan
dalam tafsirnya tentang Surat At Taubah ayat 51 tersebut sebagai berikut:
dikatakan bahwa ketetapan Allah SWT itu ada di Lauhul Mahfuzh. Juga dikatakan bahwa apa yang Allah kabarkan
kepada kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh) , baik itu kita bakal
mendapatkan kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal
terbunuh, dan mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Pada segala sesuatu
pasti ada ketentuan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelasakan bahwa
dalam ayat ini Allah SWT memberi petunjuk tentang cara menjawab pernyataan
musuh-musuh kaum muslimin. Katakanlah
kepada mereka: “Tidak akan menimpa kepada
kami kecuali apa yang Allah tetapkan buat kami.
Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah. Dialah pemimpin dan pelindung kami. Dan kami pasrah diri kepada-Nya. Cukuplah Dia menjadi penolong kami dan Dia
adalah sebaik-baik pelindung”.
Keyakinan tentang takdir Allah SWT dan kedekatan
seorang muslim dengan Rabb-nya akan memberikan kontribusi yang sangat besar
bagi sikap tegar dan berani mengahadapi segala tantangan hidup. Secara kolektif, kaum muslimin adalah kaum
yang tegar menghadapi gertakan dan ancaman lawan. Allah SWT mengabadikan sifat mereka dalam
firman-Nya:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ
النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Yaitu) orang-orang (yang
menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:
"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu,
karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan
mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan
Allah adalah sebaik-baik Pelindung."(QS. Ali Imran 173).
Gertakan
dan intimidasi manusia malah menambah keimanan kaum muslimin, yaitu semakin
yakin dan membenarkan Islam, agama yang mereka peluk, semakin yakin akan
datangnya pertolongan Allah kepada mereka, dan semakin menambah kekuatan,
keberanian, dan kesiapan mereka dalam perjuangan di jalan Allah. Iman itulah yang memberikan kekuatan spiritual
(al quwwah ar ruhiyah) kepada kaum
muslimin sehingga berani mengahapi lawan betapapun besarnya pasukan musuh. Ketika kaum muslimin di Madinah dikepung
pasukan sekutu dalam perang Ahzab, mereka tegar menghadapi serbuan dan kepungan
itu dan telah mempersiapkannya dengan membuat pertahanan parit (khandaq) di
sekeliling kota Madinah, khususnya di bagian utara yang datar. Allah SWT menggambarkan ketegaran mereka
dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ
قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu
itu (pasukan Ahzab) , mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan
Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.(QS.
Al Ahzab 22).
Keimanan itulah yang membuat 3000
pasukan kaum muslimin berani menghadapi 200 ribu pasukan gabungan Rumawi di
Mu’tah. Jelas sekali sifat keberanian
itu dalam ucapan Abdullah bin Rawahah, salah seorang panglima perang kaum
muslimin dalam perang Mu’tah itu: “Wahai
kaum muslimin, sesungguhnya yang hendak kalian hindari justru adalah mencari
syahadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil,
juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita
miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah
telah memuliakan kita. Maka
berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua
kebaikan. Menang atau mati syahid!” (lihat
Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An
Nihayah, Juz III/428).
Jelas
bahwa keberanian yang muncul dalam diri pasukan kaum muslimin, sekalipun harus
menanggung resiko kematian, merupakan bekas dari keimanan mereka. Kuatnya keyakinan serta lurusnya sikap hidup
dan motivasi diri mereka menghasilkan keberanian yang luar biasa. Mereka berperang bukan untuk menzalimi,
membunuh, dan memusnahkan manusia. Bukan pula untuk merampas harta kekayaan dan
tanah air bangsa lain serta memperbudak mereka. Tetapi mereka berperang untuk menjaga kemuliaan agama Allah SWT, Tuhan
seluruh umat manusia. Mereka berperang
untuk melindungi keberlangsungan dakwah Rasulullah saw., rasul untuk seluruh
umat manusia, rahmat bagi seluruh alam.
Dan mereka faham sekali bahwa perjuangan suci itu tidak pernah rugi. Maka wajarlah dari hati mereka tumbuh sifat
perwira dan berani.
Keyakinan
akan kemuliaan dan keluhuran Islam itulah yang membuat Rasulullah saw. memiliki
keberanian dan rasa percaya diri untuk menulis surat dan mengirim utusan kepada
penguasa Rumawi, Kisra, dan penguasa dunia lainnya, mengajak mereka masuk ke dalam
kemuliaan Islam. Lihatlah surat
Rasulullah saw. kepada Heraklius, penguasa Rumawi: “Bismillahirrahmanirrahiim. Dari
Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya kepada Heraklius, pembesar Rumawi. Semoga keselamatan bagi siapa saja yang
mengikuti petunjuk (hidayah), amma ba’du.
Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan islam, masuk Islamlah. Engkau akan selamat. Allah akan memberikan kepadamu dua
pahala. Namun jika engkau menolak, maka
engkau harus menanggung dosa rakyatmu (orang-orang yarisyiyin). Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada
suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai
tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah)"(HR.Bukhari).
Sebelum
terjadinya pertempuran dalam perang Qadisiyah tiga orang utusan kaum muslimin
bertemu dengan Panglima Rustum, Panglima negara Persia. Rustum bertanya kepada mereka: “Apa yang
membuat kalian datang ke sini?” Utusan
kaum muslimin itu menjawab: “Sesungguhnya
Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja –yang ingin—dari
perbudakan manusia agar menghamba kepada Allah Yang Esa, dan dari kesempitan
dunia kepada keluasannya, dan daripada penyimpangan semua agama (din) kepada
keadilan Islam. Maka Allah telah
mengutus Rasul-Nya dengan membawa din-Nya, kepada seluruh makhluq-Nya. Maka siapa saja yang menerima din ini dari
kami, akan kami terima dirinya dan kami akan kembali daripadanya, dan kami akan
meninggalkan dia dengan tanah airnya.
Akan tetapi, siapa yang menolak akan kami perangi sampai kami masuk
surga atau mendapat kemenangan”.
Dengan
kejelasan visi dan misi hidup itulah kaum muslimin memiliki sifat
keberanian menghadapi segala macam
bangsa demi menyampaikan Islam kepada mereka.
Keberanian mereka tidak dalam kerangka anarkis, tapi senantiasa disertai
kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi.
Diriwayatkan bahwa dalam perang Khandaq (Ahzab) ada seornag jagoan
Quraisy menantang duel kepada pasukan kaum muslimin. Ali minta izin Rasulullah saw. untuk
melayani. Beliau mencegahnya seraya
berkata: “Duduklah kamu sebaba orang itu adalah Amru bin Abdud”. Setelah
meminta izin tiga kali barulah Rasulullah saw. mengizinkan Ali berduel melawan
Amru. Setelah melihat yang datang Ali,
Amru mengatakan: “Datangkan seorang yang lebih tua, aku tak tega menumpahkan
darahmu”. Tapi Ali menjawab: “Sebaliknya
aku tega menumpahkan darahmu”.
Mendengar itu Amru turun dari kudanya dan langsung memukulkan pedangnya
ke Ali hingga memecahkan perisainya dan ia terluka di kepala. Ali membalas pukulan dengan pedangnya hingga
Amru mati terbelah. Kaum muslimin pun
bertakbir. Setelah itu Ali menghadap
Rasulullah saw. Saat itu Umar bertanya: “Mengapa baju besinya tidak anda
rampas, baju besinya bagus sekali?”.
Ali menjawab: “Ketika Amru kupukul, auratnya terbuka sehingga aku malu melihatnya
dan aku malu merampasnya”. (lihat Al Bidayah wan Nihayah, Juz 4/106). Dalam perang Uhud Rasulullah saw. pernah
memberikan pedang beliau kepada Abu Dujanah dengan pesan agar digunakan sesuai dengan haknya. Maka Abu Dujanah menggunakan pedang itu untuk
menghantam setiap musuh di hadapannya.
Pedang itulah yang merobohkan seorang Quraisy yang suka mencincang kaum
muslimin. Dan pedang itulah yang hampir
membabat kepala Hindun bin Utbah, istri Abu Sufyan. Sabetan pedang itu diurungkan oleh Abu Dujanah
setelah diketahui bahwa sasarannya adalah wanita” (Al Bidayah, Juz 4/16).
Kekuatan iman, keberanian, disiplin, dan moralitas
yang tinggilah yang membuat pasukan kaum muslimin menjadi terkenal sebagai
pasukan tak terkalahkan. Kaisar Heraclius yang merasa keheranan pasukannya yang
besar dipukul mundur oleh kaum muslimin bertanya kepada para pembesarnya:
“Celakalah kalian, kabarkanlah kepadaku tentang mereka (kaum muslimin) yang
memerangi kalian itu, bukankah mereka itu manusia seperti kalian? Mereka menjawab: Benar. Kaisar berkata lagi: Mana yang lebih banyak,
jumlah kalian ataukan jumlah mereka?
Mereka menjawab: Jumlah kami lebih banyak di seluruh medan tempur. Lalu Kaisar bertanya: Lalu bagaimana kalian
bisa kalah? Maka seorang tua dari
kalangan pembesar mereka menjawab: Karena sesungguhnya mereka (pasukan Islam)
itu mengerjakan sholat di waktu malam, berpuasa di siang hari, dan mereka
menepati janji, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan saling
membagi di antara mereka (tidak saling mementingkan diri). Sedangkan kita kalah karena sesungguhnya kita
gemar minum minuman keras, berzina,
melakukan yang haram, melanggar janji, gampang marah, zalim, memerintah dengan
kekerasan (represif), mencegah dari apa yang Allah ridlai serta berbuat
kerusakan di muka bumi. Maka Kaisar pun
berkata: “Engkau membuatku percaya—bahwa kita memang pantas untuk kalah” (lihat
Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam, hal 44).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Kaisar Heraklius
pernah bertanya kepada salah seorang prajurit Rumawi yang pernah ditawan oleh
kaum muslimin: “Ceritakanlah padaku
tentang mereka (pasukan Islam)” Maka
prajurit itu menjawab: “Diwaktu siang mereka adalah pasukan berkuda yang hebat,
dan di malam hari mereka menjadi pendeta.
Mereka tidak pernah makan dari orang-orang tanggungan mereka (kafir dzimmi) melainkan dengan
membayar. Mereka tidak memasuki suatu
daerah kecuali dengan membawa kesejahteraan, mereka selalu berdiri dengan
mantap menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai mereka datang di
hadapan orang itu”. Maka Kaisar berkata:
“Sesungguhnya engkau telah meyakinkan aku bahwa mereka akan merebut dan
menguasai tempat berpijak dua telapak kakiku”.
Dengan
meneladani sifat keberanian dan percaya diri kaum muslimin terdahulu itulah
kaum muslimin hari ini akan menang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar