Sabtu, 01 Juni 2013
Kerusakan otak akibat Methamphetamine
Meth-aphetamine, yang di Indonesia di sebut Shabu-shabu, Ice atau Seed berdampak merusak otak dalam jangka panjang. Akibatnya fungsi koordinasi memory terganggu hebat. Demukian peenelitian terbaru para ahli di institusi nasional as untuk kecanduan narkotika-NIDA. Direktur NIDA, Dr. Alan Leshner menyebutkan, penemuan terbaru menunjukan adanya hubungan langsung antara penyalahgunaan meth-amphetamine dengan perubahan prilaku. Narkotika jenis ini bukan hanya ilegal tetapi amat berbahaya. Wajar jika institut nasional AS kecanduan narkotika-NIDA memperingatkan bahaya meth-amphetamine. Sebab kasus penyalah gunawan seed, ice, crystal atau di Indonesia disebut dengan shabu-shabu, terlihat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah penjajakan pendapat di AS yang di lakukan antara bulan maret sampai april 2000, kecenderungan para pemakai speed atau shabu-shabu ini semakin muda usianya. Sekitar 75 persen pecandu shabu-shabu di AS adalah generasi muda berumur di bawa 30 tahun. Yang mengkhawatirkan, pecandu shabu-shabu yang berusia di bawah 18 tahun jumlahnya mencapai 25 persendari keseluruhan populasi pecandu. Tentu saja dikaitkan dengan hasil penelitian terbaru, kecenderungan ini amatlah meresahkan. Sebab kerusakan otak akibat pemakaian meth-amphetamine amat sulit disembuhkan dan bersifat menetap dalam jangka panjang.
Meth-amphetamine mempengaruhi unsur produksi dofamine di dalam otak. Seperti diketahiu, dopamine adalah senyawa kimia yang bersifat mengantarkan pesan di dalam. Fungsinya berkaitan erat dengan munculnya perasaan bahagia, pengendalian gerak motorik dan gerak otak. Penelitiaa menggunakan topografi emisi positron-pet oleh Dr. Nora Volkaw dari laboratorium nasional brokhaven di New York, menunjukan perbedaan besar antara pecandu dan bukan pecandu meth-amphetamine.
Volume dopamin pada kawasn otak para pecandu speed atau shabu-shabu, ternyata 24 persen lebih rendah dibanding dengan otak bukan pecandu. Dampaknya amat jelas terlihat, dari mundurnya daya kemampuan memory, kemampuan pengendalian gerak motorik, serta kemampuan berbicara para pecandu. Juga penelitian menggunakan pet menunjukan tingginya metabolisme glukosa di otak pecandu. Hal ini menunjukan, terjadinya peradangan pada bagian otak pecandu meth-amphetamine.
Penyalah gunaan meth-amphetamine di kalangan remaja Indonesia, walaupun tidak di ketahui angkanya diduga amat tinggi. Dijual dengan nama shabu-shabu, SS, mecium atau ubas, tren pemakaiannya mirip dengan di as, yakni di kalangan remaja di bawah 30 tahun.sperti juga remaja di as, remaja Indonesia menggunakan shabu-shabu mula-mula hanya mencoba-coba atau untuk gagah-gagahan, agar diterima di lingkungan tertentu. Setelah itu mereka tidak bisa terlepas dari cengkraman bubuk setan itu.
Selain itu ada anggapan, bahwa shabu-shabu tidak berbahaya atau bahayana lebih ringan disbanding putauw yakni bubuk heroin kelas rendah, yang bayak menelan korban mati konyol di Indonesia. Memang penggunaan sampah heroin yang di kenal sebagai putauw di Indonesia, akan merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya jika terlambat memakai narkotika tersebut. Itulah sebabnya di kalangan pecandu heroin atau putuw ada istilah sakit atau sakau, yaitu rasa sakit akibat ketagihan.
Para pengguna narkotika jenis meth-amphetamine semacam shabu-shabu, memang di laporkan jarang sakau ketika tubuhnya memerlukan narkotika tersebut. Efek pemakaian narkotika ini, adalah perasaan gembira berlebihan dan selalu tidak pertnah kekurangan energy. Meth-amphetamine mempengaruhi langsung sistem saraf pusat, dan pengaruhnya dapat bertahan sampai 24 jam. Setelah pengaruhnya habis, penggunanya bisa tiba-tiba merasa kosong, kehabisan energi dan mengalami depresi berat.
Efek eforia dan paranola yang menyertainya, tidak jarang menyebabkan penggunanya celak. Banyak yang tidak mampu lagi mengendalikan diri setelah memakai speed, crystal atau shabu-shabu. Pernah dilaporkan seorang pemakai meth-amphetamine melompat dari kereta api yang sedang melaju cepat, karena tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana fantasi. Selain itu kerusakan yang menetap, akibat pemakaian jangka panjang terjadi akibat degenerasi sistem syaraf pusat. Akibatnya banyak pecandu yang mengalami penyakit ganguan daya ingat, motorik dan bicara.
Sumber: Darussalam Gontor, FP2WS Discovery cet I, Agustus 2001 Hal. 37
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar