Sabtu, 22 Juni 2013

Refleksi Rasa Syuku


Hayatulislam.net - Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah SWT berfirman:


“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 152).

Imam ‘Ali Ash-Shabuni dalam Shafwât al-Tafâsir menyatakan, “Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan firman Allah SWT, ‘bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu’, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya: ‘Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?’ Rabbnya menjawab: ‘Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu’.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, I/142).

Di ayat yang lain Allah SWT menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (Qs. al-Baqarah [2]: 172).

‘Ulama-‘ulama tafsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “jika kalian benar-benar menyembah kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”

Atas dasar itu, bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni.

Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seorang yang selalu taat kepada Allah SWT, menjalan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari’at Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.

Allah SWT telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (Qs. Yunus [10]: 60).

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Qs. al-Baqarah [2]: 243).

Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering melupakan Allah SWT. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada Allah. Namun, setelah terlepas dari penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah SWT. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas:

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (Qs. al-An’âm [6]: 63-64).

Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah SWT. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah SWT agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan, bencana alam dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah SWT. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah SWT? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari’at Islam dan selalu berdzikir kepada Allah SWT?


Oleh: Syamsuddin Ramadhan
Publikasi 10/01/2005



Kamis, 20 Juni 2013

Rasa Ingin Tahu



  Rasa Ingin Tahu

Dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa akan datang seorang calon penghuni surga di tengah mereka. Hebatnya, orang tersebut kurang dikenal oleh para sahabat. Ia bukan seorang tokoh atau public figure. Para sahabat merasa penasaran, apa sebenarnya keistimewaan orang itu hingga Rasulullah SAW menjulukinya sebagai calon penghuni surga. Salah seorang sahabat, Abdullah bin Amr, berniat memantau dari dekat orang itu agar lebih jelas mengetahui apa keistimewaannya.

Abdullah lalu meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut selama tiga hari. Selama itu Abdullah mengawasi amal tuan rumah, gerak-geriknya, tutur katanya, dan cara ibadahnya. Hampir-hampir ia tidak tidur karena takut kalau ada amal tuan rumah yang tidak dapat disaksikan. Namun, Abdullah tidak melihat amal yang istimewa. Amalannya biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol dibanding dengan sahabat-sahabat lainnya.

Sebelum pulang, Abdullah pun bertanya langsung gerangan apakah amalan istimewa tuan rumah sehingga ia dianggap sebagai calon penghuni surga. Jawabnya, "Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang Muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua dengki, dendam, dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama Muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasul menyebutku sebagai calon penghuni surga".

Demikianlah, hanya orang-orang kreatif dan inovatiflah yang akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dalam hidup. Kreatif adalah menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sedangkan inovatif menjadikan yang telah ada menjadi semakin baik dan bermanfaat. Sahabat tadi termasuk orang yang kreatif sekaligus inovatif dalam beramal. Betapa tidak, ia mampu inovatif dalam beramal.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk tidak menjadi pendengki. Dan sahabat tadi "menginovasi" perintah itu sebelum ia terlelap dalam tidur. Ia membersihkan hatinya dari kedengkian dan kebencian pada saudara-saudaranya, hingga Rasulullah SAW "memvonis" ia sebagai calon penghuni surga.

Islam sangat menghargai perbuatan kreatif dan inovatif, bahkan menganjurkannya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang kreatif dan inovatif dalam kebaikan--hingga orang lain tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama--akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengikuti kebaikan tersebut. Diungkapkan, "Barangsiapa mempelopori suatu amal kebaikan, ia akan mendapatkan pahalanya, ditambah pahala orang-orang yang ikut melaksanakan kebaikan itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" (HR Muslim, Turmudzi, Ibn Majah, dan Ahmad).

Ingin tahu: awal kreativitas

Saudaraku, setiap hari masalah yang kita hadapi semakin bertambah dan kompleks. Kita tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah tersebut dengan menggunakan teori-teori lama. Pemecahannya membutuhkan kreativitas. Orang akan stres ketika laju masalah yang dihadapi tidak sebanding dengan laju kemampuan diri untuk memecahkan masalah tersebut.

Misal, kita akan stres ketika biaya hidup meningkat sedangkan penghasilan tidak meningkat. Resikonya jelas, kita harus memacu diri supaya penghasilan kita lebih besar daripada pengeluaran. Orang terbaik adalah orang yang laju kemampuan dirinya lebih cepat dari laju masalah yang dihadapinya. Bila pengeluaran kita naik dua ratus perbulan, maka penghasilan kita harus bertambah lebih dari dua ratus ribu perbulan. Bila ini terjadi, insya Allah kita akan lebih tenang.

Masalahnya, kecepatan kita untuk meningkatkan kualitas diri tidak sebanding dengan kecepatan dari masalah yang kita hadapi. Karena itu, daripada kita sibuk memikirkan masalah, harusnya kita sibuk meningkatkan percepatan dan kualitas diri kita.

Bagaimana caranya? Orang kreatif adalah orang yang selalu ingin tahu. Keutamaan membersihkan hati dari dengki dan kebencian sebelum tidur, dengan izin Allah, bisa sampai kepada kita karena rasa keingintahuan Abdullah Amr bin 'Ash terhadap keutamaan sahabat yang disebut ahli surga tersebut. Demikian pula jatuhnya apel tidak akan menghasilkan penemuan hukum gravitasi bila Isaac Newton tidak memiliki rasa ingin tahu. Lewat rasa ingin tahulah ilmu pengetahuan bisa berkembang pesat seperti sekarang.

Karena itu, bertanyalah selalu terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Kenapa orang bisa sukses padahal dulunya lebih buruk daripada kita? Kenapa orang bisa jadi bintang kelas, padahal dulunya tidak naik kelas. Para ibu pun bisa bertanya, kenapa Rasulullah SAW sangat mencintai Siti Khadijah padahal beliau usianya lebih tua lima belas tahun dari Rasul.

Biasanya, keinginan untuk tahu lebih banyak akan menjadi awal dari berbuat lebih banyak dan prestasi lebih besar. Tentunya, dalam proses mencari tahu kita diwajibkan mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Wallahu a'lam bish-shawab
( KH Abdullah Gymnastiar )
Republika – Dialog Jumat, 04 Maret 2005

BERANI DAN PERCAYA DIRI



BERANI DAN PERCAYA DIRI

Iman yang benar dalam dada seorang muslim akan menghasilkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa.  Sebab, seorang muslim, setelah mengetahui dan memahami firman Allah SWT : 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(QS. At Taubah 51). 
Dia akan beriman bahwa apa yang ditetapkan oleh Allah SWT niscaya akan menimpanya, yang baik maupun yang buruk.  Sehingga dia akan menceburkan diri dalam medan kehidupan bahkan medan perang sekalipun dengan penuh keberanian.  Dia tidak gentar pada apapun dan siapapun, selain kepada Allah SWT.  Terlebih lagi jika seorang muslim mengerti dan memahami sabda Rasulullah saw:

(( لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ أَجَلَهَا وَرِزْقَهَا وَمَا قُدِرَ لَهَا ))

“Tidaklah mati seseorang sampai dipenuhi ajalnya, rizki, dan apa yang ditakdirkan baginya”.
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya tentang Surat At Taubah ayat 51 tersebut sebagai berikut: dikatakan bahwa ketetapan Allah SWT itu ada di Lauhul Mahfuzh.  Juga dikatakan bahwa apa yang Allah kabarkan kepada kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh) , baik itu kita bakal mendapatkan kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal terbunuh, dan mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Pada segala sesuatu pasti ada ketentuan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelasakan bahwa dalam ayat ini Allah SWT memberi petunjuk tentang cara menjawab pernyataan musuh-musuh kaum muslimin.  Katakanlah kepada mereka: “Tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang Allah tetapkan buat kami.  Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah.  Dialah pemimpin dan pelindung kami.  Dan kami pasrah diri kepada-Nya.  Cukuplah Dia menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik    pelindung”. 
Keyakinan tentang takdir Allah SWT dan kedekatan seorang muslim dengan Rabb-nya akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi sikap tegar dan berani mengahadapi segala tantangan hidup.  Secara kolektif, kaum muslimin adalah kaum yang tegar menghadapi gertakan dan ancaman lawan.  Allah SWT mengabadikan sifat mereka dalam firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."(QS. Ali Imran 173).
            Gertakan dan intimidasi manusia malah menambah keimanan kaum muslimin, yaitu semakin yakin dan membenarkan Islam, agama yang mereka peluk, semakin yakin akan datangnya pertolongan Allah kepada mereka, dan semakin menambah kekuatan, keberanian, dan kesiapan mereka dalam perjuangan di jalan Allah.   Iman itulah yang memberikan kekuatan spiritual (al quwwah ar ruhiyah) kepada kaum muslimin sehingga berani mengahapi lawan betapapun besarnya pasukan musuh.  Ketika kaum muslimin di Madinah dikepung pasukan sekutu dalam perang Ahzab, mereka tegar menghadapi serbuan dan kepungan itu dan telah mempersiapkannya dengan membuat pertahanan parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, khususnya di bagian utara yang datar.  Allah SWT menggambarkan ketegaran mereka dalam firman-Nya:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (pasukan Ahzab) , mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.(QS. Al Ahzab 22). 
            Keimanan itulah yang membuat 3000 pasukan kaum muslimin berani menghadapi 200 ribu pasukan gabungan Rumawi di Mu’tah.  Jelas sekali sifat keberanian itu dalam ucapan Abdullah bin Rawahah, salah seorang panglima perang kaum muslimin dalam perang Mu’tah itu: “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya yang hendak kalian hindari justru adalah mencari syahadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita.  Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan.  Menang atau mati syahid!” (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Juz III/428).
           
            Jelas bahwa keberanian yang muncul dalam diri pasukan kaum muslimin, sekalipun harus menanggung resiko kematian, merupakan bekas dari keimanan mereka.  Kuatnya keyakinan serta lurusnya sikap hidup dan motivasi diri mereka menghasilkan keberanian yang luar biasa.  Mereka berperang bukan untuk menzalimi, membunuh, dan memusnahkan manusia. Bukan pula untuk merampas harta kekayaan dan tanah air bangsa lain serta memperbudak mereka.   Tetapi mereka berperang untuk  menjaga kemuliaan agama Allah SWT, Tuhan seluruh umat manusia.  Mereka berperang untuk melindungi keberlangsungan dakwah Rasulullah saw., rasul untuk seluruh umat manusia, rahmat bagi seluruh alam.    Dan mereka faham sekali bahwa perjuangan suci itu tidak pernah rugi.  Maka wajarlah dari hati mereka tumbuh sifat perwira dan berani. 
            Keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran Islam itulah yang membuat Rasulullah saw. memiliki keberanian dan rasa percaya diri untuk menulis surat dan mengirim utusan kepada penguasa Rumawi, Kisra, dan penguasa dunia lainnya, mengajak mereka masuk ke dalam kemuliaan Islam.  Lihatlah surat Rasulullah saw. kepada Heraklius, penguasa Rumawi: “Bismillahirrahmanirrahiim.  Dari Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya kepada Heraklius, pembesar Rumawi.  Semoga keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk (hidayah), amma ba’du.  Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan islam, masuk Islamlah.  Engkau akan selamat.  Allah akan memberikan kepadamu dua pahala.  Namun jika engkau menolak, maka engkau harus menanggung dosa rakyatmu (orang-orang yarisyiyin).  Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"(HR.Bukhari).
            Sebelum terjadinya pertempuran dalam perang Qadisiyah tiga orang utusan kaum muslimin bertemu dengan Panglima Rustum, Panglima negara Persia.  Rustum bertanya kepada mereka: “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”  Utusan kaum muslimin itu menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja –yang ingin—dari perbudakan manusia agar menghamba kepada Allah Yang Esa, dan dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan daripada penyimpangan semua agama (din) kepada keadilan Islam.  Maka Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa din-Nya, kepada seluruh makhluq-Nya.  Maka siapa saja yang menerima din ini dari kami, akan kami terima dirinya dan kami akan kembali daripadanya, dan kami akan meninggalkan dia dengan tanah airnya.  Akan tetapi, siapa yang menolak akan kami perangi sampai kami masuk surga atau mendapat kemenangan”.   
            Dengan kejelasan visi dan misi hidup itulah kaum muslimin memiliki sifat keberanian  menghadapi segala macam bangsa demi menyampaikan Islam kepada mereka.   Keberanian mereka tidak dalam kerangka anarkis, tapi senantiasa disertai kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi.  Diriwayatkan bahwa dalam perang Khandaq (Ahzab) ada seornag jagoan Quraisy menantang duel kepada pasukan kaum muslimin.  Ali minta izin Rasulullah saw. untuk melayani.  Beliau mencegahnya seraya berkata: “Duduklah kamu sebaba orang itu adalah Amru bin Abdud”. Setelah meminta izin tiga kali barulah Rasulullah saw. mengizinkan Ali berduel melawan Amru.  Setelah melihat yang datang Ali, Amru mengatakan: “Datangkan seorang yang lebih tua, aku tak tega menumpahkan darahmu”.  Tapi Ali menjawab: “Sebaliknya aku tega menumpahkan darahmu”.   Mendengar itu Amru turun dari kudanya dan langsung memukulkan pedangnya ke Ali hingga memecahkan perisainya dan ia terluka di kepala.  Ali membalas pukulan dengan pedangnya hingga Amru mati terbelah.  Kaum muslimin pun bertakbir.  Setelah itu Ali menghadap Rasulullah saw. Saat itu Umar bertanya: “Mengapa baju besinya tidak anda rampas, baju besinya bagus sekali?”.    Ali menjawab: “Ketika Amru kupukul, auratnya terbuka sehingga aku malu melihatnya dan aku malu merampasnya”. (lihat Al Bidayah wan Nihayah, Juz 4/106).  Dalam perang Uhud Rasulullah saw. pernah memberikan pedang beliau kepada Abu Dujanah dengan pesan agar  digunakan sesuai dengan haknya.  Maka Abu Dujanah menggunakan pedang itu untuk menghantam setiap musuh di hadapannya.  Pedang itulah yang merobohkan seorang Quraisy yang suka mencincang kaum muslimin.  Dan pedang itulah yang hampir membabat kepala Hindun bin Utbah, istri Abu Sufyan.  Sabetan pedang itu diurungkan oleh Abu Dujanah setelah diketahui bahwa sasarannya adalah wanita” (Al Bidayah, Juz 4/16).
Kekuatan iman, keberanian, disiplin, dan moralitas yang tinggilah yang membuat pasukan kaum muslimin menjadi terkenal sebagai pasukan tak terkalahkan. Kaisar Heraclius yang merasa keheranan pasukannya yang besar dipukul mundur oleh kaum muslimin bertanya kepada para pembesarnya: “Celakalah kalian, kabarkanlah kepadaku tentang mereka (kaum muslimin) yang memerangi kalian itu, bukankah mereka itu manusia seperti kalian?  Mereka menjawab: Benar.  Kaisar berkata lagi: Mana yang lebih banyak, jumlah kalian ataukan jumlah mereka?  Mereka menjawab: Jumlah kami lebih banyak di seluruh medan tempur.  Lalu Kaisar bertanya: Lalu bagaimana kalian bisa kalah?  Maka seorang tua dari kalangan pembesar mereka menjawab: Karena sesungguhnya mereka (pasukan Islam) itu mengerjakan sholat di waktu malam, berpuasa di siang hari, dan mereka menepati janji, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan saling membagi di antara mereka (tidak saling mementingkan diri).  Sedangkan kita kalah karena sesungguhnya kita gemar minum minuman keras,  berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, gampang marah, zalim, memerintah dengan kekerasan (represif), mencegah dari apa yang Allah ridlai serta berbuat kerusakan di muka bumi.  Maka Kaisar pun berkata: “Engkau membuatku percaya—bahwa kita memang pantas untuk kalah” (lihat Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam, hal 44).    
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Kaisar Heraklius pernah bertanya kepada salah seorang prajurit Rumawi yang pernah ditawan oleh kaum muslimin:  “Ceritakanlah padaku tentang mereka (pasukan Islam)”  Maka prajurit itu menjawab: “Diwaktu siang mereka adalah pasukan berkuda yang hebat, dan di malam hari mereka menjadi pendeta.  Mereka tidak pernah makan dari orang-orang tanggungan mereka (kafir dzimmi) melainkan dengan membayar.  Mereka tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan membawa kesejahteraan, mereka selalu berdiri dengan mantap menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai mereka datang di hadapan orang itu”.  Maka Kaisar berkata: “Sesungguhnya engkau telah meyakinkan aku bahwa mereka akan merebut dan menguasai tempat berpijak dua telapak kakiku”.



  Dengan meneladani sifat keberanian dan percaya diri kaum muslimin terdahulu itulah kaum muslimin hari ini akan menang!


                       

Sabtu, 01 Juni 2013

Kerusakan otak akibat Methamphetamine


               Meth-aphetamine, yang di Indonesia di sebut Shabu-shabu, Ice atau Seed berdampak merusak otak dalam jangka panjang. Akibatnya fungsi koordinasi memory terganggu hebat. Demukian peenelitian terbaru para ahli di institusi nasional as untuk kecanduan narkotika-NIDA. Direktur NIDA, Dr. Alan Leshner menyebutkan, penemuan terbaru menunjukan adanya hubungan langsung antara penyalahgunaan meth-amphetamine dengan perubahan prilaku. Narkotika jenis ini bukan hanya ilegal tetapi amat berbahaya. Wajar jika institut nasional AS kecanduan narkotika-NIDA memperingatkan bahaya meth-amphetamine. Sebab kasus penyalah gunawan seed, ice, crystal atau di Indonesia disebut dengan shabu-shabu, terlihat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah penjajakan pendapat di AS yang di lakukan antara bulan maret sampai april 2000, kecenderungan para pemakai speed atau shabu-shabu ini semakin muda usianya. Sekitar 75 persen pecandu shabu-shabu di AS adalah generasi muda berumur di bawa 30 tahun. Yang mengkhawatirkan, pecandu shabu-shabu yang berusia di bawah 18 tahun jumlahnya mencapai 25 persendari keseluruhan populasi pecandu. Tentu saja dikaitkan dengan hasil penelitian terbaru, kecenderungan ini amatlah meresahkan. Sebab kerusakan otak akibat pemakaian meth-amphetamine amat sulit disembuhkan dan bersifat menetap dalam jangka panjang.
              Meth-amphetamine mempengaruhi unsur produksi dofamine di dalam otak. Seperti diketahiu, dopamine adalah senyawa kimia yang bersifat mengantarkan pesan di dalam. Fungsinya berkaitan erat dengan munculnya perasaan bahagia, pengendalian gerak motorik dan gerak otak. Penelitiaa menggunakan topografi emisi positron-pet oleh Dr. Nora Volkaw dari laboratorium nasional brokhaven di New York, menunjukan perbedaan besar antara pecandu dan bukan pecandu meth-amphetamine.
            Volume dopamin pada kawasn otak para pecandu speed atau shabu-shabu, ternyata 24 persen lebih rendah dibanding dengan otak bukan pecandu. Dampaknya amat jelas terlihat, dari mundurnya daya kemampuan memory, kemampuan pengendalian gerak motorik, serta kemampuan berbicara para pecandu. Juga penelitian menggunakan pet menunjukan tingginya metabolisme glukosa di otak pecandu. Hal ini menunjukan, terjadinya peradangan pada bagian otak pecandu meth-amphetamine.
             Penyalah gunaan meth-amphetamine di kalangan remaja Indonesia, walaupun tidak di ketahui angkanya diduga amat tinggi. Dijual dengan nama shabu-shabu, SS,  mecium atau ubas, tren pemakaiannya mirip dengan di as, yakni di kalangan remaja di bawah 30 tahun.sperti juga remaja di as, remaja Indonesia menggunakan shabu-shabu mula-mula hanya mencoba-coba atau untuk gagah-gagahan, agar diterima di lingkungan tertentu. Setelah itu mereka tidak bisa terlepas dari cengkraman bubuk setan itu.
            Selain itu ada anggapan, bahwa shabu-shabu tidak berbahaya atau bahayana lebih ringan disbanding putauw yakni bubuk heroin kelas rendah, yang bayak menelan korban mati konyol di Indonesia. Memang penggunaan sampah heroin yang di kenal sebagai putauw di Indonesia, akan merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya jika terlambat memakai narkotika tersebut. Itulah sebabnya di kalangan pecandu heroin atau putuw ada istilah sakit atau sakau, yaitu rasa sakit akibat ketagihan.   
             Para pengguna narkotika jenis meth-amphetamine semacam shabu-shabu, memang di laporkan jarang sakau ketika tubuhnya memerlukan narkotika tersebut. Efek pemakaian narkotika ini, adalah perasaan gembira berlebihan dan selalu tidak pertnah  kekurangan energy. Meth-amphetamine mempengaruhi langsung sistem saraf pusat, dan pengaruhnya dapat bertahan sampai 24 jam. Setelah pengaruhnya habis, penggunanya bisa tiba-tiba merasa kosong, kehabisan energi dan mengalami depresi berat.
             Efek eforia dan paranola yang menyertainya, tidak jarang menyebabkan penggunanya celak. Banyak yang tidak mampu lagi mengendalikan diri setelah memakai speed, crystal atau shabu-shabu. Pernah dilaporkan seorang pemakai meth-amphetamine melompat dari kereta api yang sedang melaju cepat, karena tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana fantasi. Selain itu kerusakan yang menetap, akibat pemakaian jangka panjang terjadi akibat degenerasi sistem syaraf pusat. Akibatnya banyak pecandu yang mengalami penyakit ganguan daya ingat, motorik dan bicara. 


Sumber: Darussalam Gontor, FP2WS Discovery cet I, Agustus 2001 Hal. 37