Kamis, 20 Juni 2013

BERANI DAN PERCAYA DIRI



BERANI DAN PERCAYA DIRI

Iman yang benar dalam dada seorang muslim akan menghasilkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa.  Sebab, seorang muslim, setelah mengetahui dan memahami firman Allah SWT : 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(QS. At Taubah 51). 
Dia akan beriman bahwa apa yang ditetapkan oleh Allah SWT niscaya akan menimpanya, yang baik maupun yang buruk.  Sehingga dia akan menceburkan diri dalam medan kehidupan bahkan medan perang sekalipun dengan penuh keberanian.  Dia tidak gentar pada apapun dan siapapun, selain kepada Allah SWT.  Terlebih lagi jika seorang muslim mengerti dan memahami sabda Rasulullah saw:

(( لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ أَجَلَهَا وَرِزْقَهَا وَمَا قُدِرَ لَهَا ))

“Tidaklah mati seseorang sampai dipenuhi ajalnya, rizki, dan apa yang ditakdirkan baginya”.
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya tentang Surat At Taubah ayat 51 tersebut sebagai berikut: dikatakan bahwa ketetapan Allah SWT itu ada di Lauhul Mahfuzh.  Juga dikatakan bahwa apa yang Allah kabarkan kepada kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh) , baik itu kita bakal mendapatkan kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal terbunuh, dan mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Pada segala sesuatu pasti ada ketentuan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelasakan bahwa dalam ayat ini Allah SWT memberi petunjuk tentang cara menjawab pernyataan musuh-musuh kaum muslimin.  Katakanlah kepada mereka: “Tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang Allah tetapkan buat kami.  Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah.  Dialah pemimpin dan pelindung kami.  Dan kami pasrah diri kepada-Nya.  Cukuplah Dia menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik    pelindung”. 
Keyakinan tentang takdir Allah SWT dan kedekatan seorang muslim dengan Rabb-nya akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi sikap tegar dan berani mengahadapi segala tantangan hidup.  Secara kolektif, kaum muslimin adalah kaum yang tegar menghadapi gertakan dan ancaman lawan.  Allah SWT mengabadikan sifat mereka dalam firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."(QS. Ali Imran 173).
            Gertakan dan intimidasi manusia malah menambah keimanan kaum muslimin, yaitu semakin yakin dan membenarkan Islam, agama yang mereka peluk, semakin yakin akan datangnya pertolongan Allah kepada mereka, dan semakin menambah kekuatan, keberanian, dan kesiapan mereka dalam perjuangan di jalan Allah.   Iman itulah yang memberikan kekuatan spiritual (al quwwah ar ruhiyah) kepada kaum muslimin sehingga berani mengahapi lawan betapapun besarnya pasukan musuh.  Ketika kaum muslimin di Madinah dikepung pasukan sekutu dalam perang Ahzab, mereka tegar menghadapi serbuan dan kepungan itu dan telah mempersiapkannya dengan membuat pertahanan parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, khususnya di bagian utara yang datar.  Allah SWT menggambarkan ketegaran mereka dalam firman-Nya:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (pasukan Ahzab) , mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.(QS. Al Ahzab 22). 
            Keimanan itulah yang membuat 3000 pasukan kaum muslimin berani menghadapi 200 ribu pasukan gabungan Rumawi di Mu’tah.  Jelas sekali sifat keberanian itu dalam ucapan Abdullah bin Rawahah, salah seorang panglima perang kaum muslimin dalam perang Mu’tah itu: “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya yang hendak kalian hindari justru adalah mencari syahadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita.  Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan.  Menang atau mati syahid!” (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Juz III/428).
           
            Jelas bahwa keberanian yang muncul dalam diri pasukan kaum muslimin, sekalipun harus menanggung resiko kematian, merupakan bekas dari keimanan mereka.  Kuatnya keyakinan serta lurusnya sikap hidup dan motivasi diri mereka menghasilkan keberanian yang luar biasa.  Mereka berperang bukan untuk menzalimi, membunuh, dan memusnahkan manusia. Bukan pula untuk merampas harta kekayaan dan tanah air bangsa lain serta memperbudak mereka.   Tetapi mereka berperang untuk  menjaga kemuliaan agama Allah SWT, Tuhan seluruh umat manusia.  Mereka berperang untuk melindungi keberlangsungan dakwah Rasulullah saw., rasul untuk seluruh umat manusia, rahmat bagi seluruh alam.    Dan mereka faham sekali bahwa perjuangan suci itu tidak pernah rugi.  Maka wajarlah dari hati mereka tumbuh sifat perwira dan berani. 
            Keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran Islam itulah yang membuat Rasulullah saw. memiliki keberanian dan rasa percaya diri untuk menulis surat dan mengirim utusan kepada penguasa Rumawi, Kisra, dan penguasa dunia lainnya, mengajak mereka masuk ke dalam kemuliaan Islam.  Lihatlah surat Rasulullah saw. kepada Heraklius, penguasa Rumawi: “Bismillahirrahmanirrahiim.  Dari Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya kepada Heraklius, pembesar Rumawi.  Semoga keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk (hidayah), amma ba’du.  Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan islam, masuk Islamlah.  Engkau akan selamat.  Allah akan memberikan kepadamu dua pahala.  Namun jika engkau menolak, maka engkau harus menanggung dosa rakyatmu (orang-orang yarisyiyin).  Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"(HR.Bukhari).
            Sebelum terjadinya pertempuran dalam perang Qadisiyah tiga orang utusan kaum muslimin bertemu dengan Panglima Rustum, Panglima negara Persia.  Rustum bertanya kepada mereka: “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”  Utusan kaum muslimin itu menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja –yang ingin—dari perbudakan manusia agar menghamba kepada Allah Yang Esa, dan dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan daripada penyimpangan semua agama (din) kepada keadilan Islam.  Maka Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa din-Nya, kepada seluruh makhluq-Nya.  Maka siapa saja yang menerima din ini dari kami, akan kami terima dirinya dan kami akan kembali daripadanya, dan kami akan meninggalkan dia dengan tanah airnya.  Akan tetapi, siapa yang menolak akan kami perangi sampai kami masuk surga atau mendapat kemenangan”.   
            Dengan kejelasan visi dan misi hidup itulah kaum muslimin memiliki sifat keberanian  menghadapi segala macam bangsa demi menyampaikan Islam kepada mereka.   Keberanian mereka tidak dalam kerangka anarkis, tapi senantiasa disertai kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi.  Diriwayatkan bahwa dalam perang Khandaq (Ahzab) ada seornag jagoan Quraisy menantang duel kepada pasukan kaum muslimin.  Ali minta izin Rasulullah saw. untuk melayani.  Beliau mencegahnya seraya berkata: “Duduklah kamu sebaba orang itu adalah Amru bin Abdud”. Setelah meminta izin tiga kali barulah Rasulullah saw. mengizinkan Ali berduel melawan Amru.  Setelah melihat yang datang Ali, Amru mengatakan: “Datangkan seorang yang lebih tua, aku tak tega menumpahkan darahmu”.  Tapi Ali menjawab: “Sebaliknya aku tega menumpahkan darahmu”.   Mendengar itu Amru turun dari kudanya dan langsung memukulkan pedangnya ke Ali hingga memecahkan perisainya dan ia terluka di kepala.  Ali membalas pukulan dengan pedangnya hingga Amru mati terbelah.  Kaum muslimin pun bertakbir.  Setelah itu Ali menghadap Rasulullah saw. Saat itu Umar bertanya: “Mengapa baju besinya tidak anda rampas, baju besinya bagus sekali?”.    Ali menjawab: “Ketika Amru kupukul, auratnya terbuka sehingga aku malu melihatnya dan aku malu merampasnya”. (lihat Al Bidayah wan Nihayah, Juz 4/106).  Dalam perang Uhud Rasulullah saw. pernah memberikan pedang beliau kepada Abu Dujanah dengan pesan agar  digunakan sesuai dengan haknya.  Maka Abu Dujanah menggunakan pedang itu untuk menghantam setiap musuh di hadapannya.  Pedang itulah yang merobohkan seorang Quraisy yang suka mencincang kaum muslimin.  Dan pedang itulah yang hampir membabat kepala Hindun bin Utbah, istri Abu Sufyan.  Sabetan pedang itu diurungkan oleh Abu Dujanah setelah diketahui bahwa sasarannya adalah wanita” (Al Bidayah, Juz 4/16).
Kekuatan iman, keberanian, disiplin, dan moralitas yang tinggilah yang membuat pasukan kaum muslimin menjadi terkenal sebagai pasukan tak terkalahkan. Kaisar Heraclius yang merasa keheranan pasukannya yang besar dipukul mundur oleh kaum muslimin bertanya kepada para pembesarnya: “Celakalah kalian, kabarkanlah kepadaku tentang mereka (kaum muslimin) yang memerangi kalian itu, bukankah mereka itu manusia seperti kalian?  Mereka menjawab: Benar.  Kaisar berkata lagi: Mana yang lebih banyak, jumlah kalian ataukan jumlah mereka?  Mereka menjawab: Jumlah kami lebih banyak di seluruh medan tempur.  Lalu Kaisar bertanya: Lalu bagaimana kalian bisa kalah?  Maka seorang tua dari kalangan pembesar mereka menjawab: Karena sesungguhnya mereka (pasukan Islam) itu mengerjakan sholat di waktu malam, berpuasa di siang hari, dan mereka menepati janji, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan saling membagi di antara mereka (tidak saling mementingkan diri).  Sedangkan kita kalah karena sesungguhnya kita gemar minum minuman keras,  berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, gampang marah, zalim, memerintah dengan kekerasan (represif), mencegah dari apa yang Allah ridlai serta berbuat kerusakan di muka bumi.  Maka Kaisar pun berkata: “Engkau membuatku percaya—bahwa kita memang pantas untuk kalah” (lihat Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam, hal 44).    
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Kaisar Heraklius pernah bertanya kepada salah seorang prajurit Rumawi yang pernah ditawan oleh kaum muslimin:  “Ceritakanlah padaku tentang mereka (pasukan Islam)”  Maka prajurit itu menjawab: “Diwaktu siang mereka adalah pasukan berkuda yang hebat, dan di malam hari mereka menjadi pendeta.  Mereka tidak pernah makan dari orang-orang tanggungan mereka (kafir dzimmi) melainkan dengan membayar.  Mereka tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan membawa kesejahteraan, mereka selalu berdiri dengan mantap menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai mereka datang di hadapan orang itu”.  Maka Kaisar berkata: “Sesungguhnya engkau telah meyakinkan aku bahwa mereka akan merebut dan menguasai tempat berpijak dua telapak kakiku”.



  Dengan meneladani sifat keberanian dan percaya diri kaum muslimin terdahulu itulah kaum muslimin hari ini akan menang!


                       

Sabtu, 01 Juni 2013

Kerusakan otak akibat Methamphetamine


               Meth-aphetamine, yang di Indonesia di sebut Shabu-shabu, Ice atau Seed berdampak merusak otak dalam jangka panjang. Akibatnya fungsi koordinasi memory terganggu hebat. Demukian peenelitian terbaru para ahli di institusi nasional as untuk kecanduan narkotika-NIDA. Direktur NIDA, Dr. Alan Leshner menyebutkan, penemuan terbaru menunjukan adanya hubungan langsung antara penyalahgunaan meth-amphetamine dengan perubahan prilaku. Narkotika jenis ini bukan hanya ilegal tetapi amat berbahaya. Wajar jika institut nasional AS kecanduan narkotika-NIDA memperingatkan bahaya meth-amphetamine. Sebab kasus penyalah gunawan seed, ice, crystal atau di Indonesia disebut dengan shabu-shabu, terlihat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah penjajakan pendapat di AS yang di lakukan antara bulan maret sampai april 2000, kecenderungan para pemakai speed atau shabu-shabu ini semakin muda usianya. Sekitar 75 persen pecandu shabu-shabu di AS adalah generasi muda berumur di bawa 30 tahun. Yang mengkhawatirkan, pecandu shabu-shabu yang berusia di bawah 18 tahun jumlahnya mencapai 25 persendari keseluruhan populasi pecandu. Tentu saja dikaitkan dengan hasil penelitian terbaru, kecenderungan ini amatlah meresahkan. Sebab kerusakan otak akibat pemakaian meth-amphetamine amat sulit disembuhkan dan bersifat menetap dalam jangka panjang.
              Meth-amphetamine mempengaruhi unsur produksi dofamine di dalam otak. Seperti diketahiu, dopamine adalah senyawa kimia yang bersifat mengantarkan pesan di dalam. Fungsinya berkaitan erat dengan munculnya perasaan bahagia, pengendalian gerak motorik dan gerak otak. Penelitiaa menggunakan topografi emisi positron-pet oleh Dr. Nora Volkaw dari laboratorium nasional brokhaven di New York, menunjukan perbedaan besar antara pecandu dan bukan pecandu meth-amphetamine.
            Volume dopamin pada kawasn otak para pecandu speed atau shabu-shabu, ternyata 24 persen lebih rendah dibanding dengan otak bukan pecandu. Dampaknya amat jelas terlihat, dari mundurnya daya kemampuan memory, kemampuan pengendalian gerak motorik, serta kemampuan berbicara para pecandu. Juga penelitian menggunakan pet menunjukan tingginya metabolisme glukosa di otak pecandu. Hal ini menunjukan, terjadinya peradangan pada bagian otak pecandu meth-amphetamine.
             Penyalah gunaan meth-amphetamine di kalangan remaja Indonesia, walaupun tidak di ketahui angkanya diduga amat tinggi. Dijual dengan nama shabu-shabu, SS,  mecium atau ubas, tren pemakaiannya mirip dengan di as, yakni di kalangan remaja di bawah 30 tahun.sperti juga remaja di as, remaja Indonesia menggunakan shabu-shabu mula-mula hanya mencoba-coba atau untuk gagah-gagahan, agar diterima di lingkungan tertentu. Setelah itu mereka tidak bisa terlepas dari cengkraman bubuk setan itu.
            Selain itu ada anggapan, bahwa shabu-shabu tidak berbahaya atau bahayana lebih ringan disbanding putauw yakni bubuk heroin kelas rendah, yang bayak menelan korban mati konyol di Indonesia. Memang penggunaan sampah heroin yang di kenal sebagai putauw di Indonesia, akan merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya jika terlambat memakai narkotika tersebut. Itulah sebabnya di kalangan pecandu heroin atau putuw ada istilah sakit atau sakau, yaitu rasa sakit akibat ketagihan.   
             Para pengguna narkotika jenis meth-amphetamine semacam shabu-shabu, memang di laporkan jarang sakau ketika tubuhnya memerlukan narkotika tersebut. Efek pemakaian narkotika ini, adalah perasaan gembira berlebihan dan selalu tidak pertnah  kekurangan energy. Meth-amphetamine mempengaruhi langsung sistem saraf pusat, dan pengaruhnya dapat bertahan sampai 24 jam. Setelah pengaruhnya habis, penggunanya bisa tiba-tiba merasa kosong, kehabisan energi dan mengalami depresi berat.
             Efek eforia dan paranola yang menyertainya, tidak jarang menyebabkan penggunanya celak. Banyak yang tidak mampu lagi mengendalikan diri setelah memakai speed, crystal atau shabu-shabu. Pernah dilaporkan seorang pemakai meth-amphetamine melompat dari kereta api yang sedang melaju cepat, karena tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana fantasi. Selain itu kerusakan yang menetap, akibat pemakaian jangka panjang terjadi akibat degenerasi sistem syaraf pusat. Akibatnya banyak pecandu yang mengalami penyakit ganguan daya ingat, motorik dan bicara. 


Sumber: Darussalam Gontor, FP2WS Discovery cet I, Agustus 2001 Hal. 37

Rabu, 29 Mei 2013

Sa’id bin al-Musayyab


Sa’id bin al-Musayyab

Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Haznal-Quraisy al-Makhzumi, ayahnya dan kakeknya adalah sahabat Nabi Shallallahualaihi wassalam, ia dilahirkan sebelum Umar menjadi khalifah, pendapat lain mengatakan ia dilahirkan dua tahun sesudah kekhalifaan Umar ra. Ia luas ilmunya, sempurna kehormatannya, kuat agamanya, mengatakan kebenaran dan mendalam jiwanya, sejak muda telah melakukan perjalanan siang dan malam untuk mendapatkan hadist Nabi.

Mengenai dia sebagaimana dituturkan oleh
1.      Ahmad bin Hambal adalah:” Ia tabi’in paling utama”.
2.      Makhul berkata:” Aku telah menjelajahi bumi untuk menuntut ilmu, teryata aku tidak bertemu seorangpun yang lebih pandai dari pada Sa’id bin al-Musayyab”.
3.      Ali bin al-Madini menyatakan :” Aku tidak tahu di kalangan tabi’in ada orang yang luas ilmunya daripada Sa’id, dia ditempatku pada masa tabi’in terbesar, ia tidak mau menerima hadiyah raja-raja”.

Para ulama meriwayatkan bahwa ia mengawinkan putrinya kepada Kutsayyir bin Abi Wada’ah hanya dengan mas kawin dua dirham.

Padahal sebelumnya ia menolak lamaran Abdul Malik yang ingin menjodohkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik. Dan ketika Abdul Malik hendak melaksanakan bai’at bagi putranya al-Walid, Hisyam bin Ismail selaku pengganti Abdul Malik di Medinah memukul Sa’id bi al-Musayyab dan menghadapnya dengan pedang, untuk memaksanya melakukan bai’at namun Sa’id tetap tidak mau.

Ibnu Musayyab meriwayatkan hadist dari Abu Bakar secara Mursal, dan ia mendengar dari sahabat besar: Umar, Utsman, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah dan beberapa yang lainnya. Yang meriwayatkan dari dia antara lain Salim bin Abdullah, Az-Zuhri, Qatadah, Syuraik, Abuaz-Zanad. Sebagian besar riwayatnya adalah Al-musnad dari Abu Hurairah. Hasan Basri apabila mengalami kesulitan maka ia menulis kepada Sa’id bin Musayyab untuk menanyakannya. Menurut salah satu pendapat, Ia wafat pada tahun 94 H.

Nafi Maula Abdullah bin Umar

Nafi Maula Abdullah bin Umar

Nafi Maulana Abdullah bin Umar adalah salah seorang ahli hadits yang berada di Madinah, Ia meriwayatkan dari sahabat-sahabat awal ; Aisyah, Abu Hurairah, dan sahabat yang lain, pada masanya pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis, ia pernah diutus ke Mesir untuk mengajarkan As-Sunnah kepada penduduknya. Semasa hidupnya ia tidak pernah memberikan fatwa. Ia melayani Abdullah bin Umar 30 tahun, ia berasal dari Dailami dan suatu pendapat mengatakan beliau wafat pada tahun 117 H.

Ibrahim an-Nakha’i

Ibrahim an-Nakha’i

Ibrahim an-Nakha’i, nama aslinya adalah Ibrahim binYazid an-Nakha’i seorang ahli fiqih Iraq. Ia meriwayatkan hadits dari Al-Qama, Masruq, Aswad dan lain-lain. Dia adalah Guru hammad bin Abu Salamah seorang ahli fiqih dan termasuk ulama yang ikhlas. Ia takut akan ketenaran. Abdul Malikbin Abu Sulaiman berkata, saya mendengar Said bin Zhubair berkata: “ kamu minta fatwa kepadaku, sedangakan padamu ada Ibrahim an-Nakha’i?” dan ia hanya bicara bila ditanya. menurut suatu pendapat Ia meninggal 95 H, pendapat lain mengatakan ia meninggal 96 H dan umurnya sekitar 49 tahun.

Alqamah bin Qaish an-Nakha’i

Alqamah bin Qaish an-Nakha’i

Alqamah bin Qaishan-Nakha’i, seorang ahli fiqih Irak. Ia dilahirkan pada masa hidup Rasulullahsaw dan mendengar hadits dari Sahabat Umar, Utsman, Ibnu Mas’ud dan Ali Rahimahumullah. Ia menjadi ahli fiqih pada Ibnu Mas’ud dan dialah sebaik-baik temannya. Diriwayatkan dari Ibnu mas’ud bahwasannya ia berkata: “ Saya tidak membaca atau mengatahui sesuatu kecuali Al-Qamah membacakan atau mengerjakannya.” Qabus bin Zhi-Byan berkata kepada ayahku: “ karena apakah engkau tinggalkan sahabat dan datang kepada Al-Qamah?”  Ia menjawab: saya jumpai orang-orang dari sahabat-sahabat rasulullah saw bertanya dan meminta fatwa kepadanya. Adzzahabi berkata: “ dia adalah seorang faqih, imam yang sangat mahir, suaranya merdu dengan Al-Qur’an, teguh dalam apa yang dinukilkannya, seorang yang banyak berbuat baik dan wara’. Ia serupa dengan Ibnu Mas’ud dalam memberikan tuntunan, petunjuk, sifat dan keutamaannya. menurut suatu pendapat Ia
meninggal tahun 61 H, pendapat lain mengatakan 62 H. 

Selasa, 21 Mei 2013

Biografi ulama ahli hadits


 Biografi ulama ahli hadits dibeberapa tempat : Madinah, Kufah dan Bashra.

        Ulama Ahli Hadits di Madinah :

Sa’idbin al-Musayyab

Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Haznal-Quraisy al-Makhzumi, ayahnya dan kakeknya adalah sahabat Nabi Shallallahualaihi wassalam, ia dilahirkan sebelum Umar menjadi khalifah, pendapat lain mengatakan ia dilahirkan dua tahun sesudah kekhalifaan Umar ra. Ia luas ilmunya, sempurna kehormatannya, kuat agamanya, mengatakan kebenaran dan mendalam jiwanya, sejak muda telah melakukan perjalanan siang dan malam untuk mendapatkan hadist Nabi.

Mengenai dia sebagaimana dituturkan oleh
1.      Ahmad bin Hambal adalah:” Ia tabi’in paling utama”.
2.      Makhul berkata:” Aku telah menjelajahi bumi untuk menuntut ilmu, teryata aku tidak bertemu seorangpun yang lebih pandai dari pada Sa’id bin al-Musayyab”.
3.      Ali bin al-Madini menyatakan :” Aku tidak tahu di kalangan tabi’in ada orang yang luas ilmunya daripada Sa’id, dia ditempatku pada masa tabi’in terbesar, ia tidak mau menerima hadiyah raja-raja”.

Para ulama meriwayatkan bahwa ia mengawinkan putrinya kepada Kutsayyir bin Abi Wada’ah hanya dengan mas kawin dua dirham.

Padahal sebelumnya ia menolak lamaran Abdul Malik yang ingin menjodohkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik. Dan ketika Abdul Malik hendak melaksanakan bai’at bagi putranya al-Walid, Hisyam bin Ismail selaku pengganti Abdul Malik di Medinah memukul Sa’id bi al-Musayyab dan menghadapnya dengan pedang, untuk memaksanya melakukan bai’at namun Sa’id tetap tidak mau.

Ibnu Musayyab meriwayatkan hadist dari Abu Bakar secara Mursal, dan ia mendengar dari sahabat besar: Umar, Utsman, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah dan beberapa yang lainnya. Yang meriwayatkan dari dia antara lain Salim bin Abdullah, Az-Zuhri, Qatadah, Syuraik, Abuaz-Zanad. Sebagian besar riwayatnya adalah Al-musnad dari Abu Hurairah. Hasan Basri apabila mengalami kesulitan maka ia menulis kepada Sa’id bin Musayyab untuk menanyakannya. Menurut salah satu pendapat, Ia wafat pada tahun 94 H.

Nafi Maula Abdullah bin Umar

Nafi Maulana Abdullah bin Umar adalah salah seorang ahli hadits yang berada di Madinah, Ia meriwayatkan dari sahabat-sahabat awal ; Aisyah, Abu Hurairah, dan sahabat yang lain, pada masanya pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis, ia pernah diutus ke Mesir untuk mengajarkan As-Sunnah kepada penduduknya. Semasa hidupnya ia tidak pernah memberikan fatwa. Ia melayani Abdullah bin Umar 30 tahun, ia berasal dari Dailami dan suatu pendapat mengatakan beliau wafat pada tahun 117 H


        Ahli Hadits dari Kufah :

Alqamah bin Qaish an-Nakha’i

Alqamah bin Qaishan-Nakha’i, seorang ahli fiqih Irak. Ia dilahirkan pada masa hidup Rasulullahsaw dan mendengar hadits dari Sahabat Umar, Utsman, Ibnu Mas’ud dan Ali Rahimahumullah. Ia menjadi ahli fiqih pada Ibnu Mas’ud dan dialah sebaik-baik temannya. Diriwayatkan dari Ibnu mas’ud bahwasannya ia berkata: “ Saya tidak membaca atau mengatahui sesuatu kecuali Al-Qamah membacakan atau mengerjakannya.” Qabus bin Zhi-Byan berkata kepada ayahku: “ karena apakah engkau tinggalkan sahabat dan datang kepada Al-Qamah?”  Ia menjawab: saya jumpai orang-orang dari sahabat-sahabat rasulullah saw bertanya dan meminta fatwa kepadanya. Adzzahabi berkata: “ dia adalah seorang faqih, imam yang sangat mahir, suaranya merdu dengan Al-Qur’an, teguh dalam apa yang dinukilkannya, seorang yang banyak berbuat baik dan wara’. Ia serupa dengan Ibnu Mas’ud dalam memberikan tuntunan, petunjuk, sifat dan keutamaannya. menurut suatu pendapat Ia
meninggal tahun 61 H, pendapat lain mengatakan 62 H. 

Ibrahim an-Nakha’i

Ibrahim an-Nakha’i, nama aslinya adalah Ibrahim binYazid an-Nakha’i seorang ahli fiqih Iraq. Ia meriwayatkan hadits dari Al-Qama, Masruq, Aswad dan lain-lain. Dia adalah Guru hammad bin Abu Salamah seorang ahli fiqih dan termasuk ulama yang ikhlas. Ia takut akan ketenaran. Abdul Malikbin Abu Sulaiman berkata, saya mendengar Said bin Zhubair berkata: “ kamu minta fatwa kepadaku, sedangakan padamu ada Ibrahim an-Nakha’i?” dan ia hanya bicara bila ditanya. menurut suatu pendapat Ia meninggal 95 H, pendapat lain mengatakan ia meninggal 96 H dan umurnya sekitar 49 tahun.

        AhliHadits dari Bashra :

Al-Hasan Al-Bashra

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula”(pembantu wanita)-nya telah melahirkan seorang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh suka cita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau berinama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khairoh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pemberiannama.

Al-Hasanbin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam –sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu AlaihiWassalam.

Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubungan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada keluarga Rasulullah ShallallahuAlaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada dimasjid Nabawiy.

Ditimpa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadistdari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah binUmar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat Rasulullahlainnya. Al-Bukhari mentakhrijkan 80 hadits, Muslim mentakhrijkan 70 haditsdari Anas, dan keduanya mentakhrij bersama-sama sebanyak 128 hadits. Al-Hasansangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi,kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabatdan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini. Di Basrah, Hasan Al-Basrilebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau,Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmufiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain.Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pulake telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritikatasnya atau menentangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depanAl-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah mengutarakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itudibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadapAl-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …” Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalahkalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seorangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati bergetar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenangan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.
Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semuamata memandang dengan kagum.

Mulailah Al-Hajaj menanyakan berbagai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab olehHasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaannya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejukdan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memeliharamu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat HasanAl-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110 H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong takber penghuni.


Semoga dapat menambah wawasan kita..

AAMIIN...